Sifat utama kehidupan tak lain adalah perubahan, para ilmuwan mengungkapkan melalui “Hukum Transmutasi Energi yang kekal, atau “The Law of Perpetual Transmutation of Energy”. Menjelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah energi, dan bahwa semua energi tersebut berada dalam keadaan konstan bergerak dan terus bertransformasi. Salah satunya adalah pikiran, pikiran adalah energi yang terus mengubah bentuk dan mewujud ke dalam hidup kita dengan pola pikir dan arah perhatian kita.

Segala sesuatu yang berwujud fisik, awalnya hanyalah berupa ide. Sebagai contoh, Seandainya Thomas Alva Edison dulu tidak pernah membayangkan bola lampu, kemungkinan sampai saat ini kita masih memanfaatkan cahaya lilin sebagai penerangan.

Penemuan bola lampu sesungguhnya dimulai dari “momen berpikir tentang bola lampu” yang terjadi dalam pikiran Thomas Alva Edison, yang kemudian terwujud dan menjadi kenyataan fisik. Ini juga berlaku untuk kita semua. Semua yang fisik selalu dimulai dari ide yang nonfisik, dalam gambaran pikiran kita. Kita – Secara sadar atau tidak – memberikan energi kepada gambar dalam pikiran kita, hanya dengan memikirkannya. Dan gambaran tersebut akan terwujud atau tidak terwuju dalam hidup kita, tergantung dari jenis energi yang kita terapkan.

The-Thinking-Mind-620x330

                Salah satu masalah terbesar manusia adalah terkait dengan perubahan energi ini, yaitu banyaknya kesalahpahaman seputar emosi.

Energi dibuat untuk bergerak dan berubah mencapai tujuan tertingginya, membantu jiwa untuk terus berubah dan berkembang. Namun, pikiran manusia memiliki kemampuan untuk menghentikan energi tersebut, dengan cara melabeli penilaiannya.

“Ketika anda menilai sesuatu sebagai baik atau buruk, benar atau salah, ya atau tidak, Pada dasarnya anda telah menghentikan aliran pertumbuhan dan menghentikkan semua potensi yang dapat dicapai oleh energi.”

BrotherWord-Power-of-the-Mind

Sebagai contoh, Ketika kita merasa sedih, marah, atau tertekan, Kita menilainya sebagai sesuatu yang “buruk” maka harus dihindari. Dan sebaliknya, ketika kita merasa bahagia,sukses dan menyenangkan, kita menilainya sebagai sesuatu yang “baik”, sehingga perlu terus untuk dipertahankan. Padahal tidak ada energi yang tetap konsisten karena itu berarti ia tidak memiliki potensi untuk tumbuh. Sehingga, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah, membiarkan energi tersebut agar tetap bisa mengalir secara alami, tanpa melampirkan label penilaian, baik atau buruk.

Ketika perasaan sedih, marah dan depresi muncul, berikan kemungkinan mereka untuk bisa mengalir dan biarkan diri anda mengekspresikan perasaan tersebut sejauh tidak merugikan orang lain. Begitu pula, saat perasaan bahagia dan sukacita muncul, biarkan energi itu tetap mengalir dan bersedia berbagi energi ini kepada orang lain. Dengan begitu, kita akan dapat melihat, bagaimana Hukum Keesaan Ilahi terhubung pada Hukum Transmutasi Energi yang Kekal.

2015-08-17-1439824483-8838874-bigstockThinkingWomanMakingDecision44303686

Kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini dalam kehidupan kita :

Apa warisan yang akan kita tinggalkan ?

Bagaimana kita akan dikenang ?

Dengan predikat seperti apa, seluruh hidup kita akan digambarkan ?

Apakah kita akan dikenang dengan cinta dan rasa hormat ?

                Dengan mereflesikan pertanyaan tersebut, maka kita akan mulai mengartikan tujuan hidup, dan besar kemungkinan seluruh hidup kita pun akan mengalami perubahan, tidak ada yang tidak mungkin. Tetapkanlah tujuan hidup anda, agar di setiap kehadiran dan keberadaan kita dapat membawa terang maupun manfaat, paling sedikit bagi orang-orang terdekat atau masyarakat di sekitar kita. Transformasikan kualitas hidup kita menjadi lebih baik lagi.

 

Sumber : Majalah Luar Biasa “042012”