Hampir setiap hari ponsel kita dijejali dengan beragam promo melalui broadcast message, entah itu di WhatsApp, SMS, ataupun media sosial. Beberapa promo menarik akan membuat kita tergiur, tapi tidak sedikit yang menganggapnya sebagai spam. Sebagian orang malas membaca broadcast message itu, dan langsung menghapusnya. Padahal setiap broadcast sudah dibuat sedemikian rupa oleh orang-orang yang bekerja untuk membuat iklan.

Tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa bisnis apapun membutuhkan strategi promosi untuk bisa lebih banyak dikenal orang. Tapi yang perlu dipahami adalah jika promosi yang dilakukan tidak benar cara-caranya, atau bukan pada target market yang tepat, maka bukankah semuanya akan tidak berguna? Tentunya sayang sekali. Jadi apa yang harus dilakukan?  

 

Antara Hard Selling dan Soft Selling

Secara umum ada dua jenis iklan: hard selling dan soft selling. Hard selling adalah cara promosi yang langsung atau to the point pada tujuan pembuatan iklan tersebut. Pembaca langsung memahami bahwa itu adalah iklan untuk menjual produk tertentu. Tanpa basa-basi, orang bisa langsung paham seluk beluk produk yang diiklankan.

Didukung dengan tampilan visual yang menarik, pembaca akan mudah tergerak untuk jadi konsumen. Dalam hal ini, promosi hard selling bisa dilakukan melalui media sosial yang menonjolkan foto seperti instagram. Hard selling biasanya berbentuk iklan yang mengarah langsung ke penjualan, seperti landing page, banner ads, broadcast message, sales letter, dsb. Cara menjual hard selling lebih pas untuk produk yang sudah banyak dikenal orang dan tidak butuh banyak penjelasan lagi.

Sementara itu, soft selling umumnya berupa konten yang dikemas dengan cerita menarik. Format iklannya lebih panjang daripada hard selling, yang nantinya terdapat call to action yang mengarahkan ke penjualan. Contohnya: postingan di blog, free e-book, caption di Instagram, webinar, dsb.

 

Manakah yang lebih efektif?

Dari banyaknya cara-cara promosi yang bisa kita coba, tentu kita cenderung akan bertanya: mana yang lebih efektif: Hard selling atau soft selling? Ternyata dua-duanya bisa jadi efektif jika kita tahu cara menerapkannya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan dari hard selling adalah bisa cepat membuat orang mengenali apa yang ditawarkan. Ketika iklan dilihat oleh mereka yang sedang membutuhkan, maka iklan hard selling akan cepat berhasil. Tapi jika iklan terlalu sering dilakukan dan orang yang membacanya tidak butuh, maka iklan hard selling akan dilewatkan begitu saja.   

Kelebihan dari soft selling adalah bisa membangun brand image yang kuat di mata audiens, bisa membangun relasi jangka panjang dengan mereka yang merasa ada keterkaitan dengan value produk yang diiklankan. Tapi karena pendekatan yang tidak langsung ke sasaran, waktu yang dibutuhkan untuk berhasil cenderung lebih lama daripada hard selling. Jadi, Anda pilih mana antara soft selling atau hard selling? Semua tergantung dengan apa tujuan awal dibangun, dan pilihan itu ada di tangan Anda.